Home Religi Kisah Sahabat Nabi Kisah Nyata Sahabat Rasulullah Yang Sarat Akan Hikmahnya

Kisah Nyata Sahabat Rasulullah Yang Sarat Akan Hikmahnya

154
0

Safari Dakwah – Berbicara mengenai perjuangan Nabi pada saat dakwah, tentunya tidak lepas dari beberapa kisah nyata sahabat Rasulullah. Dimana dengan setianya para sahabat tersebut menemani Rasulullah SAW dalam setiap dakwahnya. Tentunya meneledani kisah sahabat Nabi Muhammad SAW akan memberikan banyak hikmah untuk anda. Hal tersebut bukan hanya untuk cerita islami anak saja, melainkan hal tersebut memang benar-benar nyata dan terjadi.

Karena memang banyak orang yang melupakan perjuangan sahabat Nabi, mereka biasanya hanya mengikuti kisah-kisah dan cerita Nabi. Akan tetapi perlu anda ketahui bahwa orang di dekat Nabi juga berperan penting dalam kemajuan agama Islam seperti saat ini. Untuk itu pada kesempatan kali ini kami akan membahas mengenai kisah nyata sahabat Nabi. Semoga dengan adanya bacaan ini bisa menambah keimanan anda kepada Allah SWT dan bisa memetik hikmah dibalik kisah berikut.

Kisah Nyata Sahabat Rasulullah

Terdapat beberapa kisah teladan sahabat Nabi, mulai dari kisah yang mengharukan, sampai dengan kisah yang menyenangkan. Nah berikut kami berikan salah satu kisah dari sahabat Nabi yang bisa anda ambil hikmahnya.

Kisah Mengharukan Dari Zahid RA Dan Pernikahannya

Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seseorang yang bernama Zahid, ia terbilang sudah memiliki usia lanjut yaitu 35 tahun namun belum kunjung menikah. Ia hidup di Suffah Masjid Madinah, dan ketika ia sedang mengasah pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang sambil mengucapkan salam ke Zahid. Seketika itu Zahid merasa kaget dan sedikit gugup untuk menjawab salam Rasulullah SAW.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Zahid “Wahai saudaraku, selama ini engkau masih sendiri saja”

Zahid menjawab “Allah tetap bersamaku ya Rasulullah”.

Rasulullah SAW kembali bertanya “Maksudku kenapa engkau selama ini masih sendiri, apakah engkau tidak mau menikah”.

Zahid pun menjawab “Bukan begitu Ya Rasulullah, aku ini adalah orang yang tidak mempunyai pekerjaan, parasku juga jelek, siapa juga yang mau denganku ya Rasulullah?”

Rasulullah SAW berkata “Asalkan engkau mau, itu adalah urusan yang mudah!”

Setelah itu Rasulullah SAW memerntahkan kepada sekretarisnya untuk membuatkan sebuah surat yang didalamnya berisi untuk melamar seorang wanita bernama Zulfah binti Said. Dimana ia adalah seorang putri dari bangsawan di Madinah yang sangat kaya raya dan juga memiliki paras cantik jelita. Akhirnya surat itupun dibawa ke rumah Zahid yang nantinya ditujukan untuk diberikan kepada Said atau bangsawan tersebut.

Karena pada saat itu Said sedang menerima tamu, maka Zahid mengucapkan salam dan memberikan amanah surat dari Rasulullah kepada Said di depan rumahnya sambil berkata “Wahai Saudaraku Said, aku membawakan surat dari Rasulullah SAW yang mulia untuk diberikan kepadamu”. Lalu Said pun menjawab “Adalah suatu kehormatan bagiku”.

Ketika Said sedang membacar surat yang dibawa oleh Zahid, Said pun merasa terkejut dan kaget Karena memang tradisi di Arab perkawinan yang dilakukan selama ini, biasanya seorang bangsawan akan dinikahkan dengan keturunan bangsawan atau sekutunya. Untuk menghilangkan keraguannya Said pun bertanya “Wahai saudaraku, apakah benar ini surat dari Rasulullah SAW”.

Zahid pun menjawab “Apakah engkau pernah melihatku melakukan kebohongan”. Dan dalam suasana yang sedikit tegang tersebut Zulfah datang sambil bertanya “Wahai ayah, kenapa engkai sedikit tegang terhadap tamu ini, bukankah lebih baik jika disuruh masuk”. Lalu Said atau ayahnya berkata “Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang ingin melamarmu untuk menjadi istrinya”.

Di saat itulah Zulfah menangis sejadi-jadinya sambil melihat kea rah wajah Zahid, lantas berkata “Wahai ayag, disana banyak pemuda tampan dan kaya raya yang menginginkanku, aku tidak mau ayah!” dan Said atau sang ayah berkata kepada Zahid ”Wahai Zahid, engkau sudah tahu jawabannya sendiri jika anakku ini tidak mau denganmu, bukannya aku bermaksud untuk melarangnya dan sampaikan ini kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak”.

Mendengar nama Rasulullah SAW, Zulfah menghentikan tangisnya lalu bertanya kepada ayahnya “Wahai ayah, mengapa engkau membawa nama Rasulullah”. Dan Said pun menjawab “Ini yang melamarmu merupakan perintah Rasulullah”. Mendengar jawaban ayahnya, Zulfah pun mengucap istigfar berkali-kali dan menyesali kelancangan yang telah ia lakukan sebelumnya sambil berkata kepada ayahnya “Wahai ayah, kenapa tidak sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini adalah Rasulullah, kalau begitu aku harus segera dikawinkan dengan pemuda ini”.

Dan pada hari itulah Zahid merasa jiwanya melayang, karena baru kali ini ia merasakan kebahagian yang tiada tara. Setelah pamit untu pulang Zahid menuju ke Masjid dan melakukan sujud syukur. Dan pada saat itu Rasulullah SAW sedikit tersenyum melihat gerak gerik dar Zahid yang sedikit berbeda dari biasanya.

Rasulullah bertanya kepada Zahid “Bagaimana Zahid”.

Zahid menjawab “Alhamdulilah diterima ya Rasulullah”.

Rasulullah SAW kembali bertanya “Sudah ada persiapan”.

Mendegar pertanyaan Rasulullah SAW, Zahid menundukan kepalannya sambil menjawab “Ya Rasul, saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan”. Mendengar jawaban Zahid, Rasulullah SAW menyuruhnya pergi untuk menemui Abu Bakar, Ustman, dan Abdurahman bi Auf. Setelah menemui sahabat Nabi tersebut, akhirnya Zahid memiliki uang yang cukup banyak. Dan Zahidpun memutuskan untuk pergi kepasar untuk membeli persiapan perkawinan.

Dan dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan kepada umat islam agar menghadapi semua orang kafir yang ingin menghancurka Islam. Ketika Zahid sedang merasa bahagia karena sudah membeli persiapan perkawinan, hal tak terduga terjadi. Dimana ketika ia sampai di Masjid, ia melihat banyak kaum Muslimin yang sudah siap dengan perlengkapan senjata. Zahidpun bertanya “Ada apa ini?” lalu diantara sahabat menjawabnya “Wahai Zahid, hari ini orang-orang kafir ingin menghancurkan kita, apakah engkau tidak mengerti?”

Mendengar jawaban dari sahabat Zahid lalu mengucapkan Istighfar berkali-kali lantas berkata “Perlengkapan emas kawin yang sudah ku beli ini akan aku jual kembali, dan hasilnya akan aku belikan kuda yang paling bagus”. Para sahabat Nabi menasehatinya “Wahai Zahid, nanti malam engkau akan berbulan madu, tetapi engkau hendak ikut berperang”. Dengan tegasnya Zahid menjawab “Itu tidak mungkin!”

Dengan tekad bulat yang ia tanamkan, akhirnya Zahid atau Aswad ikut berperang. Dan dalam peperangan tersebut ia mati syahid di jalan Allah SWT. Lalu Rasulullah SAW berkata “Hari ni Zahid sedang melakukan bulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah”. Mendengar perkataan dari Rasulullah SAW, para sahabat Nabi ikut meneteskan air mata dan Zulfah pun ikut menangis sambil berkata “Ya Allah, betapa bahagainya calon suamiku itu, jika saat ini aku tidak bisa mendampinginya di dunia, maka izinkanlah aku untuk bisa mendampinginya di akhirat”.

Dari kisah haru sahabat Nabi diatas, kita bisa mengambil begitu banyak hikmah, yaitu ketika anda sedang senang dalam mendapatkan sesuatu jangan pernah lupa akan kewajiban anda kepada Allah SWT. Selain itu Zulfah juga mengajarkan kita untuk bersabar dan harus merelakan kepergian suaminya, lantas berdoa agar ia dipertemukan kembali di surga-Nya Allah SWT.

Semoga salah satu kisah nyata sahabat Rasulullah SAW yang sudah kami berikan diatas bisa memberikan manfaat untuk anda. Petiklah hikmah dari kisah tersebut, dan terapkan dalam kehidupan anda.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here