Home Religi Kisah Hikmah Kisah Wali Mastur yang Tersembunyi

Kisah Wali Mastur yang Tersembunyi

351
0

Sahabat safari dakwah yang mulia.  dikisahkan dari Syeikh Al Qusyairi ia berkata. Pada suatu malam sang Sultan Murad VI merasa sangat gelisah dan galau, ia ingin tahu apa penyebabnya.

Maka ia pun memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar dari istana dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan. Sultan murad berkata: “Mari kita keluar, untuk melihat keadaan rakyatku”.

Dalam sebuah perjalanan akhirnya merekapun pergi meninggalkan kerajaannya. dipertengahan jalan tiba-tiba mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah kemudian dibangunkanlah laki-laki tersebut oleh Sultan Murad yang ternyata lelaki itu telah wafat.

Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli dengan keadaan mayat lelaki tersebut. maka Sultan Murad yang saat itu menyamar sebagai rakyat biasa, Memanggil mereka yang saat itu lewat. Kemudian mereka bertanya kepada Sultan:

“Ada apa? Apa yang kau inginkan?”

Sultan menjawab: “Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang ngurus dan membawa ke rumahnya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?”

Mereka berkata:

“Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu minum khamar (mabuk mabukan) dan selalu berzina dengan pelacur”.

Sultan menjawab: “Tapi ,bukankah ia juga Ummat Rasulullah Sholalahu alaihi wasalam? Ayo angkat dia, kita bawa ke rumahnya”.

Ketika sampai di rumahnya,  istri lelaki tersebut mengetahui suaminya telah wafat dan ia pun sedih dan menangis sejadi-jadinya. kemudian orang-orang pun memilih pergi meninggalkan  Sultan Murad dan para pengawalnya dirumah.

Sultan Murad bertanya kepada istri laki-laki itu:

“Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya. benarkah kabar itu?”

Sang istri menjawab:

“Awalnya aku menduga seperti itu tuan. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras (khamar). Kemudian membeli sesuai kemampuannya, ia bawa khamar itu ke rumah lalu  dibuangnya ke dalam toilet sambil berkata:

Alhamdulillah Aku telah meringankan dosa kaum muslimin“.

Suamiku juga selalu pergi ke tempat pelacuran, selalu memberi uang dan berkata kepada si pelacur, “Malam ini merupakan jatah waktuku, tutup pintumu sampai pagi dan jangan kau terima tamu lain”, Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku, “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pemuda.”

Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu minum minuman keras (khamar) dan melakukan perzinahan, dan berita ini pun menyebar di masyarakat, Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku:

“Wahai suamiku, apabila dirimu telah wafat maka tidak akan ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu. dan tidak ada juga yang akan mensholatimu dan menguburkanmu”.

Ia hanya tertawa, dan menjawab: “Janganlah takut wahai istriku. Jika aku wafat nanti, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya Allah Subhanahu wa ta’ala”.

Maka Sultan Murad pun menangis dan berkata: “Benar apa yang dikatakan suamimu. Demi Allah! Akulah Sultan Murad Itu, dan besok pagi kita akan mandikan serta mensholatinya bersama masyarakat dan para ulama”

Keesokan harinya jenazah laki-laki itu di Sholati oleh Sultan Murad, para ulama,  dan juga seluruh masyarakat.

Sumber : Kitab Risalah Al Qusyairiyah jilid II hal 662

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here