Safari Dakwah – Manusia diciptakan oleh Allah swt, agar mampu bekerja keras dan memakmurkan bumi, Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan sebaik-baiknya serta menganugrahkan segala apa yang ada di langit dan bumi beserta isinya. Seperti yang tersebut dalam firmannya.

” sesungguhnya kami telah menciptakan Manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tin : 4)

Allah juga berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukan untuk (kepentingan)-mu apa yang ada di langit dan bumi.” (QS.Lukman : 20)

Pada firman yang lain, “Apakah kamu tidak melihat bahwa Allah menundukan bagimu apa yang ada di bumi,” (QS. Al Hajj : 65).

Allah juga berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukan untuk (kepentingan)-mu apa yang ada di langit dan bumi.” (QS.Lukman : 20).

dalam firman yang lain, “Apakah kamu tidak melihat bahwa Allah menundukan bagimu apa yang ada di bumi,” (QS. Al Hajj : 65).

Pada sisi lain, pada diri manusia secara khusus terdapat beberapa kekurangan atau keburukan yang tidak dimiliki oleh makhluklain yang tidak dibebani tanggung jawab, makhluk seperti ini di sifati dengan kufur,zalim, sombong, rugi, durjana, dan pembangkang, karenanya, manusia patut untuk beriman, bersikap adil, bijaksana, dan memelihara diri.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya manusia it sangat zalim dan sangat mengingkari”. (QS. Ibrahim : 34).

Disamping itu, manusia harus memahami makna taklif yang dibebankan kepadanya, Al Aqad berkata, ” Diantara syarat-syarat taklif adalah ketaatan dan kebebasan. Inilah aksioma yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang yang memperdebatkan masalah takdir, iman, taklif dan balasan.

Mereka membatasi pandangan hanya pada syarat kebebasan dan mengbaikan syarat ketaatan, karena dianggap bertentangan dengan alasan dan seakan-akan merupakan suatu hal yang mustahil menurut akal, dengan setiap kemungkinan yang terlintas pada pikiran dalam memahami penciptaan manusia, karenanya barang siapa yang mencari iman dengan mentaklif tanpa memperhatikan syarat ketaatan, niscahya akan tersesat, sebab ia mencari sesuatu yang lain, bukan mencari iman maupun taklif.

Di dalam Al Quran Allah swt, berfirman kepada batin manusia dan menetapkan bahwa Dia-lah sang pencipta yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus, yang di dalamnya terdapat janji dan ancaman,”Katakanlah : Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan Dan (katakanlah) :

Luruskanlah muka (diri) mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepadanya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pula lah) kamu akan kembali kepada-Nya sebagian diberi-Nya.Petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka .”(QS. Al Ar’araf : 29-30)

Firman-Nya, ” Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zolim dan melakukan apa yang Dia kehendaki.”(QS. Ibrahim : 27).

Ayat -ayat tersebut merupakan bukti bahwa tidak ada tempat untuk menakwilkan dengan selain maknanya yang di dhohir, karena sudah jelas, bahwa jika Allah SWT yang maha kuasa mengatakan kepada sesuatu: “Jadilah, “maka ia pun terjadi. Apakah dalam hal ini terdapat kontradiksi.

Menurut akal, apabila kita melihat seluruh masalah itu dengan pandangan akal dan tidak membatasi pandangan pada nash atau melihat kewajiban mempercayai maksud dari nash nash tersebut?

Sesungguhnya mengembalikan masalah itu kepada dasar yang mengandung kemungkinan menyangkal adanya kontradiksi itu dan menunjukkan tentang bagaimana keyakinan memecahkan masalah dari dasarnya yang di tetapkan semula merupakan jalan keluar dari kontradiksi yang menyertainya di atas setiap kemungkinan selain kemingkinan ini.

Manusia merupakan roh dan akal yang di ciptakan Allah,atau merupakan bentuk dari susunan materi yang tidak di ciptakan oleh seorangpun, berdasarkan pendapat orang-orang yang mempercayai materi dan bebas dari pikiran serta keinginan.

Biarlah taklif itu merupakan keinginan Lantas bagaimankah akal manusia menggambarkan keinginannya di atas setap  kemungkinan yang terjadi? Akal tidak bisa menggambarkan segala keinginan mutlak yang bebas dari semua ikatan.

Keinginan manusia yang berlangsung tanpa ikatan adalah sama pada setiap pribadi manusia, dengan demikian, bagaimana seseorang menyatakan keinginannya yang mutlak sendirian di antara rekan rekannya yang terikat?

dari sisi Allah atau merupakan kebutuhan dari kenyataan yang tidak berhubungan dengan suatu perintah maupun balasan.

Setiap manusia diciptakan Allah dengan keinginan yang  mutlak, yang merupakan proses dalam penetapannya sebelum sampai kepada penciptaan dan perwujudannya, apabila keingnan mutlak itu adalah keinginan Allah, maka penciptaan manusia yang di bebani taklif tanpa keinginan dari mereka adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak dapat diterima, karena gugurnya taklif tidak berarti dalam keadaan ini, kecuali semua manusia diciptakan sama dalam beramal saleh.

Jika demikian, maka tidak ada kelebihan bagi orang yang berakal atas orang yang tidak berakal dan antara manusia dengan benda mati atau hewan tidak ada bedanya.

Apabila manusia harus dipaksa, maka akal manusia harus diciptakan dalam satu keadaan, yaitu keadaan berkeinginan yang di ciptakan dan di tanamkan sang pencipta, sesuatu dengan yang telah di tetapkan  dalam Al Quran.

Kebebasan bukanlah suatu ikatan, baik diciptakan maupun di cetak, terlepas apakah ia berasal dari dalam roh atau materi, meskipun berbeda, seperti halnya perbedaan nilai barang tambang yang berharga dan yang tidak berharga, keduanya sama-sama di ciptakan atau dibuat, dengan demikian, kebebasan yang diciptakan adalah kebebasan yang benar menurut akal yang bisa menerima dan memahani serta memilih kebenaran dengan ijin Alloh.

Jika kedua barang tambang itu dibuat untuk wadah emas dan wadah tembaga, maka yang pertama tetap lebih bernilai/berharga, menurut akal kebebasan cetakan tidak bisa mengungguli kebebasan ciptaan. Sehingga, bebas dari ikatan adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak ada.

Apabila makhluk mempunyai kebebasan atau mempunyai keinginan, maka hendaknya kita kembali kepada akal untuk melihat bagaimana akal menggambarkannya bahwa ia hanya mengandung satu kemungkinan bukan setiap kemungkinan.

Kebebasan pada setiap orang itu tidak sama meskipun tidak ada perbedaan kekuatan di dalamnya, namun tetap ada perbedaannya zaman, umur, tempet, tubuh, gerak, dan diam.

Apabila semua perbedaan itu tidak ada, maka kebebasan ini bukan apa-apa, Sebab jika benda-benda yang ada ini tidak berbeda atau tidak berpariasi, maka tidak bisa digambarkan.

Hal seperti itu merupakan sesuatu yang tidak ada atau makhluk yang tidak  berakal, tidak di bebani taklif, tidak berbuat kebaikan dan tidak berbuat dosa tidak mendapat pahala dan tidak di kenai hukuman.

Apabila di temukan makhluk yang bebas mempunyai keingindakan,maka ia tidak ada wujudnya, kecuali dengan adanya perbedaan menurut akal.

Apabila akal memutuskan sesuatu, maka akal itulah yang menggambarkan keinginan Allah dan keinginan manusia diatas satu kemungkinan saja, setiap sesuatu yang bukan kebebasan iman adalah anggapan yang tidak masuk akal, bahkan tidak ada. Karena itu, hukumiman dan hukum akal disini adalah serupa.

Pada dasarnya, iman adalah merupakan hasil dari perbuatan akal dan, ijtihad sehingga seseorang sampai pada kebenaran dengan ijin Allah etelah ia mengkaji, menyelidiki dan merenugkan.

iman yaitu penyerahan diri total kepada hal-hal yang tidak bisa diterima akal, tanpa berijtihad dan tanpa suatu usaha untuk memahami, menyelidiki, dan merenungkan, iman yang tidak diterima oleh islam, karena islam berbicara kepada manusia dengan akal dan memberikan bukti yang rasional.

Wujud yang kekal, sempurna dan mutlak adalah tuhan, yang hanya kepadanya kita beriman, akan tetapi, akal yang terbatas tidak bisa mencapai mutlak yang tidak terbatas.

Jika demikian, apakah akal akan mengatakan: “Tidak ada iman kepada wujud mutlak ini, karena Dia-lah satu-satunya yang ada di dalam akal supaya kita beriman kepadanya dan tidak boleh beriman kepada selain Dia? ”

Akal tidak berkata demikian, Jika akal mengatakan beriman dengan keharusan berdasarkan sikap seperti itu, hal itu tidak akan menghapus amalnya dan membatalkan wujudnya, tetapi justru merupakan suatu tanda bahwa akal telah mencapai puncak amalnya.

Yang seperti itu adalah akal yang bertambah imannya, yakni akal yang di seru Al Qur’an dengan taklif atau akal beriman yang di maksud oleh Nabi SAW. Ketika memberi peringatan dan kabar gembira.

Dengan tunduk kepada wujud yang sempurna, manusia tidak mengenal taklif selain taklif yang di terangkan oleh AL Qur’an, dengan kata lain taklif tidak ada artinya, jika tidak melakukan ketaatan dan tidak memiliki kebebasan.

Inilah makna hakiki dari sebuah kehidupan, Taklif dari Allah kepada hamba dan akal hamba untuk memahami wujud yang kekal, mutlak dan sempurna.

Disisi lain seorang hamba memahami taklif dan taat tanpa melanggar perintahnya, sebab sebagaimana kami sebutkan, pada hakikatnya tidak ada taklif jika tidak ada ketaatan dan kebebasan di dalamnya.

Manusia menyimpang jika ia arahkan tenaga akalnya kepada amal amal duniawi dan berupaya melupakan Allah, sehingga hanyut dalam kegelapan dan tersesat. Sebaliknya,kehidupan yang nyaman adalah kehidupan yang arif dan tunduk kepada allah SWT, Tanpa itu tidak bisa dinamai kehidupan.

Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Sumber ikhwan iskandar – Tangerang