Home News local Safari Dakwah Peduli Gempa Lombok

Safari Dakwah Peduli Gempa Lombok

423
1

Safaridakwah – Bandar udara Praya, begitu sepi malam itu pukul 11.15 Am. Tiba-tiba suara ponsel milik kawan kami berdering ada yang menghubunginya. Taklama terlihat dari jauh lambaian tangan keluar dari kaca mobil Toyota Rush yang menjemput kami bertiga malam itu.

Setengah tidur, kami pun belum mengerti akan dibawa kemana oleh pak Dwi seorang da’i asal Malang yang sudah hijrah ke Lombok membawa kami ke Masjid Darurat Dusun Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Kami pun segera masuk kedalam Masjid yang beratap Spandek itu, di shaff paling belakang terlihat seorang kakek berjubah putih datang menghampiri kami. Dan ternyata ialah Ustadz Abdurrohman Lubis, wartawan senior yang terbangun akibat kedatangan kami.

Dua bulan lamanya sejak peristiwa gempa bumi di Lombok pada Ahad, 05 Agustus 2018 silam. Itulah alasan mengapa kami berniat untuk meringankan kepedihan saudara-saudara muslim yang ada disana.

Dirilis oleh Kemensos pada tanggal 20 Agustus 2018 terdapat 548 korban jiwa yang meninggal akibat gempa bumi yang berkuatan 7.2 SC. Tidak hanya jalan raya. Rumah sakit dan perkantoran pun hancur karena gempa. Termasuk rumah-rumah warga tampak hancur penuh dengan puing-puing sisa tembok yang runtuh.

Selepas sholat subuh kami bertemu dengan Ustadz Syafii warga Dusun RT/05 yang sekaligus menjadi saksi atas kuasa Allah SWT.

Ustadz Syafii pun bercerita kala itu ia sedang mengimami Sholat Isya berjamaah di Masjid Al-Amin. Setelah rakaat pertama selesai, terdengar dari suara jendela yang bergeser dibelakang para jamaah sholat. Jurus seribu langkah, ternyata goyangan gempa pun membuat kocar-kacir jamaah yang sedang melaksanakan sholat Isya.

Situasi semakin tak karuan, peserta sholat pun saling bertabrakan untuk bisa keluar dari masjid. Dan kini Ustadz Syafii hanya ditemani dua orang jamaah yang masih bersedia menyelesaikan sholatnya sampai selesai.

“Setiap hari saya selalu meminta kepada Allah SWT agar dimatikan dalam keadaan Khusnul Khotimah. dan Saya sangat terharu ketika masuk di rakaat ke dua tiba-tiba lampu masjid padam. Disitulah saya merasakan kepasrahan, ketenangan serta kenikmatan dalam sholat.” Ucap Ustadz Syafii 

Pasca gempa malam itu suasana Dusun Sengigi semakin tak karuan, karena terdengar Issue Tsunami akan datang dari sebagian orang. Sebagian warga dan  Bule pun panik berlarian dalam gelap menuju dataran yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.

SEMALAM SUNTUK GEMPA TERUS MENERUS DATANG BERGANTIAN

“Hanya beralaskan daun pisang yang kering kami merebahkan diri malam itu, memandang langit yang luas dan berharap kepada Allah SWT agar Tsunami tidak datang. dan Alhamdulilah. Akhirnya Tsunami pun tidak jadi datang, cerita dari Burhanuddin (32)  seorang Tourguide  yang pernah berkerja di sebuah warung kopi di Bandung”.

Kesokan harinya Ustadz Syafii datang mengajak kami untuk berkunjung kerumah-rumah warga. Kami pun berjumpa dengan Ibu Rafiah (50), yang duduk diatas kursi rodanya didepan tenda pengungsian. Ibu Rafiah kini tidak bisa berjalan karena kedua dengkulnya remuk ditiban tembok rumahnya sendiri.

Sementara dari jauh terdengar suara teriak anak-anak membaca Al-Quran. Meski dilakukan diatas tenda dari bambu milik H. Ahmad Busairi (69). hal ini tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar Al-Quran.

Di perjalanan pulang kami  bertemu dengan Ibu Suti’in (38) yang sedang membawa air diatas kepalanya dengan ember bekas cat tembok.  Janda anak lima ini ditinggal oleh Alm. Suaminya Muhammad Zaenal Yakin yang terserang penyakit Biri-biri pada tahun 2011.

Segera kami menuju rumah Ibu Suti’in, untuk melihat keadaaannya disana. Yang kami lihat hanyalah lahan kosong yang dibalut plester semen, bekas rumahnya yang hancur.

Hati kami pun ikut hancur melihat keadaan Ibu Suti’in saat itu. Hasil donasi dari Jamaah Masjid Sabilalal Muhtadin, Fikom Photography Club dan DPMPTSP Dki Jakarta. Maka kami berniat membuatkan sebuah rumah sementara, karena bantuan dari pemerintah setempat pun tak kunjung datang.

Terpaksa kini Ibu Suti’in tinggal bersama ke lima anaknya di halaman rumah yang disulap menjadi tempat tinggal alakadarnya. Itupun ia masih bisa bersyukur karena tidak satupun anaknya hilang ketika gempa bumi datang. Anak pertamanya, Sudaeni (21) Sulaini (20) Irjan Affandi (17) Noviana Rizki (13) dan Nada Ulfa (9).

Jumat pagi, 28 September 2018 adalah hari berbahagia bagi Ibu Suti’in. dibantu oleh anak nya Irjan Affandi rumahnya kini sudah selesai dibangun selama 3 hari. Bukan hanya di Dusun Senggigi, kami juga memberikan sembako untuk para pengungsi di RT/02 Dusun Apitai, Lombok Barat.

Bahagia dan rasa Syukur terus terucap dari Ibu Suti’in kepada kami dan do’a untuk semua Donatur. Semoga dimudahkan segalanya, dan hanya Allah SWT yang dapat membalas apa yang telah dibuat atas bantuan tempat tinggalnya yang baru.

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here